Nangis berdarah-darah

Menurut Elizabeth Kubler Ross, ada beberapa tahap yang dilalui seseorang ketika ia sedang bersedih. Menurur beliau, kesedihan adalah suatu proses reaksi fisikal, emosional, sosial dan kognitif terhadap kehilangan sesuatu. Proses bersedih atau berdukacita adalah suatu proses yang sulit dilalui. Penelitian menunjukkan bahwa orang melalui beberapa tahapan dalam berduka cita. Meskipun respon terhadap situasi yang menyedihkan sangat bervariasi, namun biasanya ada pola yang muncul.

I, who feels really sad recently (eh, masih sedih ding pas nulis postingan ini juga) mencoba untuk menelisik tahap-tahap apa saja yang kira-kira sudah, sedang dan akan saya alami

Hoia, the thing that makes me want to cry out loud adalah keluarnya beberapa teman sekerja, dan damn, lebih dari sekedar beberapa
Sekitaran 6-8 orang lah
For one reason and another
Duh, sediiiihh banget, sampe nangis-nangis, kaya anak kecil. Ya, ia lah, udah berasa keluarga banget, tiba-tiba pada pergi
Kalo dirumuskan kira-kira ada empat nih, si tahap-tahap berduka-cita ini:

Shock/Denial:
A feeling of numbness can last hours to weeks. It is a period often described as “unreal”, (i.e. being amazed to have made it through a euthanasia). Some reactions people experince during this stage are: having disorganized thoughts, feeling unaffected, thinking about suicide, feeling numb, being euphoric or hysterical, feeling outside their body, or being talkative, hyper or passive. Other people will feel in denial of the loss. (i.e. “I can’t believe he is really gone…it just doesn’t seem real.)
Awalnya, pas tau temen-temen pada pindah, I feel numb. Hah? BuYayat keluar? Pak Erwan juga? Bu Allia juga? Pak Ayi juga? Bu Rosa juga? Bu Wida? Pak Luthfi?

Bu Isna JUGAAA ??

Bengong,
“Ah, masa sih mau pada pindah? Mau pada kemanaa iiihh? Tega gitu ninggalin kita-kita disini? Ntar siapa yang bakal aku siksa pas sesi Intensive English for Teachers doooooong?????”

Ngelamun,
“Bu Nov? Bu Nov? itu makanannya kunyah dulu…”

Ga ngeh pas diajak ngobrol
“Bener nih, gamau dibeliin laptop?”
“bkljhgfdrybjkmzszssf…”

Ga ngeh pas gulalinya diembat Ntri (who is a truly fan of gulali)
“Ini, buat Ntri aja ya?…”

Pas mau sholat sampe lupa kiblat sebelah mana
“Bun (ini nama panggilan Wanoja di sekolah), punten, ari kiblat teh palih mana nya?

Peluk-pelukan
“Maafin yaa, kalo-kalo selama ini saya banyak salah…”
“Makasi ya, buat semuanya, makasi udah bantuin saya selama ini…”
“Doain yaaa..moga-moga abis ini semua lancar…”
“ARRRGGGHHHHHHH…!”

Nangis-nangis ronde 1
“ANGGGGGGGGGGHHHHHHH…!”

Searching/Yearning:
People will often find themselves acutely missing the pet that is gone.
(pas makan, duh, biasanya kalo lagi makan siang gini teh ada Bu Wida yang ngajakin makan atau ngajakin beli pepes ayam enak di Akhsan dan suka pundung kalo ga ada yang nyaut, ada Bu Isna yang hobi bagi-bagi makanan dan kita yang duduk mengerubungi beliau minta dikasi makan, nggak lupa ada Pak Ayi yang jadi dekomposer )
Individuals in this phase can be pre-occupied with thoughts of the deceased; they may have dreams about the pet that is gone.
(setelah siang itu kita nangis-nangisan, malemnya ASLI gabisa tidur, mikirin how would it be without you guys… dan nangis lagi malem-malem…nangis-nangis ronde 2)
Reactions experienced may also include sensing that one sees or hears the pet outside their home. Feelings commonly experienced are intense pining, sadness, fear, anger, relief, irritability, guilt and yearning. Sometimes anger is not directed at the loss, but instead towards a family member, veterinarian, self or God.
(nah, saya marah sama ‘those people’, yang bahkan sulit sekali (bahkan tidak) mengucapkan terima kasih sudah berjuang bersama – sama selama ini, dan mengucapkan maaf kalo kalo ada salah (yang mana, banyak!)
During this period individuals may find themselves bursting into tears at unexpected times. People may also experience physical illness, pain, weight change, fatigue and change in appetite.
(tadi siang nangis lagi…uwwwhh  nangis-nangis ronde 3)

Disorganization:
During this phase individuals are beginning to live their lives without their animal companion and learning new skills. This commonly leads to feeling disorganized, as well as needing to evaluate and learn different ways of managing life (i.e. how to fill that empty spot when coming home without someone to greet you).
(there ARE, new teachers, tapi kan ga samaaaaaa??? Ga ada lagi yang bakal teriak-teriak sambil memukuli Pak Ayi dengan sandal jepit biru, Bu Isna oh Bu Isna… )

Reorganization:
People in grief forget that grief is a process and that through this process, new coping skills are learned. The pet who is gone is usually never forgotten.
(not forgetting, NEVER!)

In the case of death, most individuals never “get over” the loss.
(not getting over it, not yet, CAN’T)

However, survivors learn to live with loss. The intensity of the loss changes, and a survivor can rejoin life. One finds that they can eat and sleep. Individuals may establish new relationships with pets. Sadness and crying still occur at times, while simultaneously increased happiness will be experienced.

(Yang ini belum, belum, belum…. Belum terlewati. Belum, saya masih sedih)

So sad
So sad

Tapi mau gimana lagi
Life goes on,

But the most important thing is (seperti yang dikatakan Shaggy pada Scooby Doo saat teman-teman mereka tercerai-berai) FRIENDS NEVER QUIT!

Nb:

Punten, ituh yang penjelasan Bahasa Inggrisnya, refers to pet, alias hewan peliharaan, tapi itu cuma contoh dari Ibu Elizabeth Kubler Ross yaa. Dari tadi saya ngomongin temen-temen saya tercinta ko, bukan sejenis hewan piaraan lucu)

14 thoughts on “Nangis berdarah-darah

  1. ai ibu-ibu guru ini teh keur bersedih ria…

    neng,, sudah biasa yg namany kehilangan itu dlm hidup..
    malah mestinya bahagia, krena teman-teman tcinta kita melangkah maju, walau wallahualam baleg heunteuna mah… poko-na mah doakeun yg terbaik dan wilujeng bingah ajah…

    perkara sedih, sepi, kangen, dsb… bisa diusahakan!…

    okeh..

    he’em, makasih yaaa
    saya kalo sedih gini suka jadi laper, ada yang mau kirim makanan?

  2. kalo diliat dari postingannya sih…

    sedihnya gak bikin nangis berdarah….
    tapi bikin shock berat, ampe lupa ingatan…

    lupa kiblat kemana ??? waduh…

    serius loh, saya sempet bingung kiblat sebelah mana saking sedihnya

  3. oh tidaaaaaaaaakkkk….. gw juga jadi nangis sambil berdarah-darah pas baca tulisan ini… *tangan kanan megang bawang tangan kiri megan piso, mata ke monitor…*

    bwahahahahahhaa……

    hehe… napa pula bawa-bawa piso mas?

  4. aneh… gw mah berdarah-darah baru nangis. situ kok kebalik ya? apa nangis sambil nusuk2 tangan pake linggis? hiuhaiuhauaha *OOT*

    ih, nangis berdarah-darah kan artinya nangis sambil berdarah-darah
    sambil looh
    sambil

  5. emangnya nangis bisa berdarah-darah y… hehehe..

    menurut gw (ga tw dech klo menurut yg lainnya…)
    kehilangan adalah bagian hidup yg paling ga enak, apalagi kehilangan orang yg sudah memberi warna dan arti pada hidup kita (kita..?? lo aja kale, gw engga…) tapii..
    semua pasti ada hikmahnya…🙂


    sisp sippp…thanksss yaaahhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s