Kasih Jangan?

Pernahkah kamu naik angot?
Pernah kan?
Pasti pernah, meskipun sekali
Ia kan?
Pernah?
Ngga?
Pernah aja laaaah?

Meskipun ga pernah tapi sengganya pernah liat kan?
hehe..gamau nyerah, pokoknya tau angkot kan??

Mobil angkutan rakyat ini melewati hampir semua jalan besar (kalo yang daerah tempat tinggalnya tidak dilewati angkot berarti maaf, anda tidak tinggal di kota karena angkot = angkutan kota)

Sebagai pengguna angkutan kota akut, saya sering, seriiiiiiiiiiiiiing sekali menemukan berbagai hal menarik saat ikut menumpang di angkutan rakyat murah meriah ini (angot itu murah kecuali angkot jurusan Kircon-Cibaduyut alias 05, ampuuuun dah, mahhalll ga bisa ditawar dan supirnya serem-serem)

Berbagai pengalaman lucu, menjengkelkan, menguras tenaga, pikiran, udara dari paru-paru (terutama saat nahan bau asap rokok dan bau-bau alami lainnya) juga tidak lupa pengalaman yang menguras kesabaran hati.

Suatu waktu saya pernah terlanjur duduk di kursi depan dan tidak sempat kabur pindah ke belakang saat menyadari pak supir bau badan, banget! Heheuu… merana sepanjang jalan

Kali waktu saya pernah hampir dicopet setelah dengan sengaja memamer-mamerkan HP dan dompet di dalam tas yang tidak berkancing berseleting, sampai akhirnya membuat mereka kecewa dengan bilang ‘Kiriii!’ mendadak
Kasiaaaan deh

Dan dipaksa duduk bertujuh padahal kursi hanya cukup berenam
Merana lagi lagi

Pernah juga saya hampir muntah gara-gara entah kenapa salah satu penumpang baunya minta ampun, kaya bau udang mentah yang udah agak basi,bleeewwwhhh…!
Merana lagi sepanjang jalan…

Tak terhitung seringnya di asapi penumpang lain yang merokok dalam angkot dengan sewenang-wenang
Sekali waktu pernah hidung ini di dzolimi ibu-ibu yang menggunakan parfum dengan semena-mena, menjajah udara bersih yang mestinya saya hirup.
Merana oh merana

Dan, oh, believe it or not, setelah saya pulang dan ganti baju saya baru ngeh. Parfum si ibu ini tidak hanya menempel dan menjadikan baju saya ikut wangi tapi lengan di bawah baju saya yang sebelumnya tertempeli baju berparfum beliau ikut wangi juga.

Kemeranaan berlanjut ketika mata disodori pemandangan-pemandangan yang bikin Istigfar berkali-kali. Perempuan cantik yang wangiii banget tapi ngupil dengan merdekanya di dalam angkot. Laki-laki setengah baya yang asik memelototi anak-anak SMA (perempuan) dengan rok mininya, sambil melakukan self-exaggerating. Duh! What a scene…

Nah, beberapa hari yang lalu saya ketemu ibu-ibu yang suka mintain uang ke penumpang lain dengan alasan untuk ongkos, padahal bukan.
Pantesaaan.. waktu saya naek, penumpang-penumpang lain dengan suka rela menggeser duduknya tanpa diminta supir lebih dulu.
Taunya mengumpankan saya pada si ibu.
“Neng, nyungkeun sarebu, kanggo ongkos!”

Ingatan saya kembali ke beberapa waktu lalu waktu saya dimintain uang juga di angkot, waktu itu saya kasih. Eh, besoknya ketemu lagi dan minta lagi, dengan tega akhirnya saya bilang “Kan, kemaren udah bu?!”

Kejadian beberapa hari yang lalu juga hampir sama seperti waktu itu, saya bilang “Maaf bu”
Ketika ia minta untuk kedua kalinya sambil agak memaksa, saya biarkan saja.

Karena gak dapat uang dari saya, si ibu mencari korban baru. Seorang penumpang yang baru naik, jadi korban. Berpindahlah uang lembaran dari korban baru ke tangan si ibu.

Satu angkot ngelihatin si penumpang baru dengan ekspresi campur antara kasihan dan ekspresi “Kena juga deh!”
Hehe

Dan benar saja, sesaat kemudian si ibu turun, tanpa membayar. Langsung lari.

Semua korban-korbannya hanya bisa bengong.

Bukannya mau pelit dan tidak mau membantu, tapi ketika dimintai uang untuk alasan yang tidak jelas atau bohong seperti yang ibu barusan lakukan, ada keengganan yang saya rasakan.
Meminta uang dengan alasan untuk ongkos padahal ketika turun ia tidak membayar tidak bisa saya terima. Kalau memang butuh uang untuk alasan yang jelas dan kebetulan saya ada rezeki, InsyaAllah tidak akan saya pelitkan.
Ini saya loh yaa…
Mungkin anda berpendapat lain.
Jika anda ada pada posisi saya, apa yang akan anda lakukan?
Kasih jangan?

17 thoughts on “Kasih Jangan?

  1. selagi sy ada duit di dompet ato saku…..sy akan beri walau hanya seribu perak……tp dgn syarat sy akan nanyakan dulu tujuannya minta uang……….karena ke ikhlasan kita yg di nilai..

    nih..barusan ada yg datang ama sy minta sumbangan……tanya dikit tujuan duitnya kemana…….dijelasin……..udah sy kasih aja.

    btw, pa khabr neh mbak?

  2. hem…
    kasih klw punya lebih
    jgn klw gak punya
    heuheu tetep ajah yah?
    okay beginih ajah
    kasih ajah asal niatnya ibadah
    tapi klw mrs dipake untuk hal yg kurang baik
    dan dipintanya juga dgn cara yg tdk baik
    jangan miss…
    heu…
    maap nuju rada teu konek yeuh
    smg tdk ada kudeta II

  3. Saya pernah, tapi bukan di angkot. Di mesjid. Katanya buat ongkos pulang ke Sumedang. Dia pengen saya beli koran punyanya, yg harganya cuma 2rebuan, seharga 10 ribu. Akhirnya dikasih. Besoknya ketemu lagi. Kayaknya dia gak menghapal wajah-wajah korbannya. Minta lagi. Ya udah, saya (sedikit) omelin. Akhirnya dia ngomong, “Berarti mas kemarin gak ikhlas ya…”. Pergi aja. Dasar *sensor*.

    Jadi curhat…

    BTW, saya anti angkot. Bukan karena copet/penipu. Tapi karena ngetemnya itu.

  4. memang seru ya kalau kita naik angkutan masal, banyak hal-hal yang menarik yang kita dapatin, ada suka duka..
    coba ya kalau kayak yang ada d UUD yang isinya kurang lebih “fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara oleh negara” dan itu diwujudin dengan baik, mungkin pemandangan kayak tadi bisa diminimalisir:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s