Sambel Terasi

Saya tidak suka sambel terasi, amat sangat tidak suka. Kenapa? Padahal menurut orang-orang (yang suka), sambel terasi itu penambah selera makan. Makan makin nikmat dengan cocolan sambel terasi, pleus lalap dan ayam bakar atau gepuk.

Tapi bagi saya yang tidak suka, sambel terasi itu…maaf-maaf nih ya bagi yang suka, bau. Baunya menyengat dan ga enak banget deh pokoknya. Tidak hanya sambelnya, tapi berbagai masakan yang memakai terasi pun saya tidak suka, tidak mau makan, tidak terima kasih, sama-sama, waalaikum salam…

Saking tidak sukanya saya pada terasi, jangankan untuk memakan, untuk mencuci cobek atau wadah bekas sambel terasi pun saya emoh. Perlu banyak air mengalir dari kran terlebih dahulu sampai wadah itu lumayan bersih baru saya mau mencucinya menghajarnya dengan bilasan sabun banyak-banyak.

Terasi kadang jadi bahan untuk menjahili ataupun menggoda saya. Suatu ketika,adik laki-laki saya yang baru pulang bekerja diluar kota membawa satu paket oleh-oleh yang ukurannya tidak terlalu besar namun cukup berat. Tanpa prolog, ia menyerahkan paket itu pada saya yang dengan antusias langsung menerimanya. Namun karena curiga dengan senyum jahilnya, saya urungkan niat untuk langsung membukanya melainkan menciumnya terlebih dahulu.

Hueeekkkkks….baaaauuuuuuu!!!!!!!!

Ternyata isi oleh-olehnya adalah terasi juwana sodara-sodaraaaa!

YAIKKKKSSS

Sungguh teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya!!!!!

(Langsung cepat-cepat berdoa, doa orang terdzolimi biasanya dikabulkan. Hehehe…)

Ngapain juga ya saya nulis tentang terasi segala? Kerenan dikit kek nulis di blog tuh, udah mana jarang banget ini blog diupdate postingannya. Malang nian nasibmu wahai blogku.

Yah, alasan sebenarnya sih ga jauh-jauh dari pingin curhat. Berhubung tidak begitu suka curhat verbal, dan partner curhat saya sekarang lumayan jauh, jadi yah…lagi-lagi nyampah di blog.

Masalahnya adalah…Doh, serius amat ah.

Ya gitu deh, sekarang ini sedang merasa kaya dipaksa makan sambal terasi. Sambal yang amat sangat saya benci very much ini sedang dijejalkan ke mulut saya. Dan saya diharapkan menelannya, just like that! As if I’m okay with it. Darn!

Jujur…mau di kasi duit sepuluh ribu juga emoh banget kalo disuruh makan sambel terasi.

Parahnya lagi, ibaratnya, saya ini baru aja muntah-muntah, mual, lemes. Tapi tetep dipaksa makan sambel terasi yang saya benci ini.

Meni ga kasian atuuuuh sama saya teh…hikks. Sedih banget deh jadinya.

Kan masih banyak orang lain yang suka sambel terasi yang bisa dicekokin. Mungkin yang dicekokinnya juga ga akan nangis-nangis kaya saya. Mungkin malah ketawa ngakak pas disodorin si sambel.

Ga bisa berharap banyak, berharap yang nyuapin saya sambel terasi dan yang nonton jatuh iba dan menghentikan aksinya dan para penonton mulai demo protes. (Halaah…aksiii! Kamana atuh)

Hmmm…..

Udah dooong, ampuuunn…nih saya kembaliin sepuluh ribunya.

Bagi penyuka sambal terasi mungkin saya dianggap terlalu mengada-ada, lebay.

Mangga silahken, dicoba.

Mari kita tukar posisi

Dengan senang hati.

Tapi saya juga sadar, sesadar-sadarnya. Bahwa dunia yang saya tinggali ini tidak mengenal kata ampun. Ga suka bukan berarti aman dari ancaman disuapi sambal terasi.

Hey, life could be unfair sometimes.

Buat sekarang , mau ga mau, suka ga suka, kayaknya harus diemut dulu ini si sambel (Hueekkss..sumpah, mual beneran!) Sambil tunggu dunia lain yang tanpa sambel terasi, aman tentram damai sentosa hadir buat saya.

Hanya saja jangan harapkan muka saya terlihat menikmati si sambal ya, never! It’s already too much for me.

Mohon jangan disuapi banyak-banyak dan terus-terusan. I’ll never get used to it

Jangan tunggu sampai saya berontak, ngamuk, ngadat, mogok dan lari menembaki orang-orang.

Wuidiiihhh, terlalu sadis ya?

Baiklah, kita ulangi lagi

Jangan tunggu sampai saya berontak, ngamuk, ngadat, mogok dan lari ke kamar sambil membanting pintu dan menangis tersedu-sedu dikasur

Wait, itu lebay yah?

Agak-agak 80’s yah?

Yah, pokoknya gitu deh, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s